Ternyata Mondok tak se“Mebosankan”
itu
By
Nazy Nadzalul Firman
“Mondok??
Halahhh membosankan !!”
“Jadi
santri?? Halahh kampungan !!”
“Pesantren??
Pasti tempat aneh yang dipenuhi banyak ujian !!”
Dan
“Bla, Bla, Bla ....”
Ya, itulah yang pertama
kali terpintas di benak seorang anak berumur belasan tahun yang sehari-harinya
ia habiskan di rumah saja. Ia tidak pernah menyangka dirinya yang selalu
mengidamkan kehidupan bebas tak terperinci malah justru harus mendekap di
penjara suci. Nama anak itu Firman, seorang anak dari keluarga broken home.
Cita-citanya simpel, hanya ingin menjadi anak yang shaleh dan dapat
membanggakan kedua orangtuanya, khususnya ibunya.
Suatu hari, saat ia
pertama kali mulai memasuki Pondok Pesantren ia dibuat tercengang oleh gemuruh
shalawatan dengan diiringi tepukan marawisan. Sehingga timbul perkataan di
dalam hati kecilnya “Jika ini salah satunya, mungkin aku akan sedikit betah
tinggal disini”. Hingga akhirnya, ia pun mulai memasuki aula pendaftaran dan
pengetesan. Saat ia sedang menunggu untuk dipanggil, ada seorang anak remaja
yang menghampirinya. Anak remaja itupun menyapanya.
“Assalamu’alaikum, kamu
anak baru juga ya?” ucap anak itu
“Iya.” jawab Firman
“Ohh.. sebelumnya,, kamu
sudah pernah mondok di pasantren?”
“Belum, ini pertama kali
nya saya mondok. Sebelumnya saya hanya mengikuti pengajian-pengajian di
Madrasah Diniyah saja,”
“Ohh,, ya sudah. Salam
kenal saya Roni dari Sukabumi.”
“Salam kenal kembali.
Saya Firman dari tadi.” Ucap Firman sambil bercanda.
Roni pun menjadi teman
ngobrolnya. Sesekali mereka berdua menceritakan tentang diri mereka
masing-masing. Tak lama kemudian adzan Ashar pun berkumandang sehingga
mengharuskan mereka untuk segera bersiap-siap melaksankan ibadah shalat Ashar.
“Sudah Ashar ternyata,
mari kita bersiap-siap.” Pungkas Roni.
Ketika
memasuki Masjid ternyata tak lama kemudian berkumandanglah iqamah, Firman di
buat takjub dengan rapihnya jajaran shaf shalat yang berbaris secara teratur,
karena selama ia shalat di Masjid di kampung halamannya jarang sekali menjumpai
momen seperti yang ia lihat sekarang ini, bahkan mungkin menurutnya belum
pernah sama sekali. Dan timbulah perkataan dalam hatinya “Apakah ini juga
merupakan salahsatunya?”.
Seusai melaksanakan
shalat, waktunya ia dan keluarganya berpamitan.
“Nak, ibu pamit dulu
ya.. jaga diri baik-baik, jangan seperti di rumah lagi.. shalat setengah
harinya saja. Ingat pesan ibu mu ini ya !” ungkap sang ibu kepada Firman
“Iya, bu... insyaallah
Firman bakal laksanakan ucapan ibu.” Jawab Firman
“Dua bulan lagi kok nak, ibu ke sini lagi untuk menjenguk.
Kalau gitu ibu sekarang pamit pulang dulu ya nak, assalamu’alaikum.” Pungkas
sang ibu
“Wa’alikumsalam, bu..”
sambil mencium tangan ibunya itu
Dengan
perasaan sedih, Firman akhirnya harus ditinggal ibunya di Pesantren. Saat itu
pula Roni yang juga telah berpamitan dengan orangtuanya menghampiri Firman
untuk mengajaknya mengobrol.
“Hayohh, lagi mikirin
apa kamu Men?” ucap Roni dengan penuh semangat
“Ehh, Oni. Nggak kok
Cuma agak sedih aja gitu merasa ditinggal sama orangtua.” Jawab Firman dengan
mimik wajah yang sedih
“Hmmm, ya itulah Men,
yang namanya hidup. Kadang kita itu harus berani “PEURIH sangkan meunang
PEURAH”.” Ungkap Roni
“Maksudnya gimana Ni?”
tanya Firman dengan wajah yang kebingungan
“Maksudnya, kita harus
berani menjalani kehidupan dengan rasa kepedihan di hati kita agar kelak kita
mendapat buah atau hasil yang terbaik dari itu semua.”
“Ohh.. begitu ya, kamu
ada benarnya juga sih Ni”
“Iya dong, itulah
mengapa nama belakangku Asshidqi karena aku mungkin ya selalu benar.. hehe.”
Pungkas Roni yang sedikit ngebanyol
Langit semakin gelap
yang menandakan waktu semakin senja sehingga membuat keduanya harus segera
masuk ke dalam asrama untuk persiapan shalat Maghrib berjamaah. Sebelum itu mereka
berdua bergegas untuk pergi ke WC untuk mandi terlebih dahulu. Sesampainya di
sana ia menjumpai keadaan WC pesantren yang sudah dipenuhi antrean para santri
yang juga akan melakukan pembersihan badan pula.
“Wah, Ni. Ternyata
keadaan WC pesantren itu selalu penuh dengan antrian seperti ini ya?” tanya
Firman kepada Roni
“Ya begitulah. Kalo aku
sih sudah biasa dengan antrian seperti ini karena aku juga dulu pernah mondok
meskipun Ngalong juga, hehe.”
“Hmm, kalo seperti ini
ya bagus juga sih. Ini mengajarkan bahwa hidup itu harus sabar menanti.. betul
gak coyy?”
“Haaa.. iya dong, eh
tumben kamu sekarang dikit bijak Men” ungkap Roni mengejek Firman
Antrian
demi antrian mereka lalui hingga akhirnya giliran mereka untuk mandi
“Ehhh, kamu mau mandi bareng
gak Men?” ucap Roni
“Ya nggak mau lah, emang
aku ini cowok apaan” jawab Firman dengan logat sengaja dimiripkan seperti
perempuan
Mereka
berdua pun mandi di ruangan WC yang
terpisah. Tak lama kemudian mereka selesai mandi dan segera bergegas untuk bersiap-siap
melaksanakan shalat Maghrib berjamaah. Adzan maghrib pun berkumandang dan
mereka bergegas menuju masjid. Suasana ketika akan shalat berjamaah pun terasa
seperti shalat berjaamaah Ashar tadi. Firman dan Roni untuk pertama kalinya
duduk di barisan shaf paling depan dan tak lama kemudian sang muadzin pun
mengumandangkan iqamah. Shalat Maghrib pun berjalan dengan penuh kekhusuan.
Setelah melaksanakan
shalat berjamaah serta wiridan, tak lama setelahnya kepengurusan dari
organisasi pesantren mengumumkan kepada seluruh santri dan santriah bahwa ba’da
shalat Isya nanti akan diadakan acara Khutbatul Iftitah, yaitu pekan masa
ta’aruf santri baru. Sambil menunggu hal itu, semua santri tadarus Qur’an
terlebih dahulu dan tak terasa sudah adzan Isya pun berkumandang dan juga tak
lama iqamah pun segera berkumandang. Seluruh santri melaksanakan shalat Isya
penuh dengan Kekhusuan. Setelah shalat Isya, Firman dan Roni kemudian berfikir
untuk mengganti pakaian terlebih dahulu karena takutnya baju yang merka kenakan
akan terkena noda makanan, karena mereka berfikir ketika acara dimulai pasti
sudah disedikan bingkisan yang berisikan makanan dan minuman untuk menemani
kehangatan suasana mereka nanti.
Beberapa menit kemudian
acara akan segera dimulai dan seluruh santi dipersilahkan duduk di kursi yang
sudah panitia persiapkan. Dan ternyata sangkaan mereka berdua itu pun benar,
sudah tersedia bingkisan kotak berisikan makanan dan minuman
“Lihat kan Ni, pasti ini
akan terjadi.” Ucap Firman kepada Roni dengan perut yang keroncongan karena
tadi saking masih belum bisa ditinggal keluarga hingga lupa untuk makan.
“Ha.. benar, serasa kita
telah merasakan De Javu saja” jawab Roni dengan perasaan yang senang pula.
Acara
pekan Khutbatul Iftitah pun dimulai. Sang MC mula-mula membuka acara tersebut
dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahiim dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat
suci Al-QUR’AN beserta shalawat. Hingga dimulailah pementasan yang sangat
banyak ditunggu-tunggu oleh semua santri dan santriah yaitu pementasan seni
oleh group Marawisan. Firman dibuat takjub dengan lantunan shalawat yang
diiringi dengan tepukan kendang dan komponen alat musik marawis yang membuat
tubuhnya tak henti untuk bergerak
“Wahh, seru juga ya yang
namanya musik Marawis ini” ungkap Firman kepada Roni dengan perasaan penuh
dengan sukacita
“Ya lah pastinya” jawab
Roni
Hingga
seorang MC mempersilahkan kepada santri yang ingin menyumbangkan sebuah lagu
untuk dipertunjukan di panggung
“Wahhh.. kesempatan yang
bagus nih buat nunjukin siapa ana.” Ungkap Roni kepada Firman dengan penuh
kepercayaan diri
Dan
benar saja, Roni segera naik keatas panggung dan menyanyikan sebuah lagu
berjudul “Ayo Mondok” versi Despacito. Tak disangka ternyata Roni memiliki
suara yang merdu sehingga mengguncang bumi khutbatul iftitah ketika itu.
Setelah menampilkan sebuah lagu, ia pun segera duduk kembali.
“Wowww.. suaramu bagus
juga ya Ni, mirip penyanyi disko gitu.” puji Firman pada Roni sambil bercanda
“Hahh.. apaan kok
penyanyi disko, penyanyi dangdut lah!!” jawab Roni
Hingga
sampailah dengan puncak acara, yaitu intro diri masing-masing santri baru di
atas panggung secara ditunjuk acak oleh sang MC. Hal ini membuat mental Roni
sedikit kendor karena ia kan merasa malu jikalau ia ditunjuk oleh sang MC. Dan
pada akhirnya sang MC terlebih dahulu menunjuk Roni untuk intro. Roni tidak
merasa malu karena ia sudah memiliki modal dengan bernyanyinya ia di atas
panggung tadi. Mendengar hal itu membuat Firman semakin lega. Setelah itu
ternyata yang dipanggil oleh MC untuk memperkenalkan diri selanjutnya ialah
orang yang duduk di samping Roni karena Roni duduk di bagian paling pojok maka
otomatis itu berarti Firman selanjutnya. Firman semakin gemetar
“Tenang.. santai aja
kali. Toh mereka semua juga makan nasi nagapain harus takut karena malu coba?”
mendengar ucapan Roni yang demikian itu membuat Firman agak sedikit terbangun
mentalnya. Akhirnya ia maju ke atas panggung. Ketika di atas panggung ia
merasakan atmosfer yang sangat ramai dan bergemuruh. Ia berinisiatif ketika memperkenalkan
dirinya dengan yang lain dengan sdikit bahan candaan
“Assalamu’alaikum
wr.wb.. perkenalkan saya Firman cowok berkumis tipis, berwajah hitam manis yang
insyaallah bisa membuat wanita menjerit histeris”
Mendengar
intronya itu, membuat seluruh santri yang ada di sana dibuatnya tertawa
terbahak-bahak. Itu juga membuat hati Firman lega dan merasa menjadi sngat
senang.
Intro demi intro ia
dengarkan dan akhirnya selesai sudah perkenalan diri yang menandakan pula
berakhir acara tersebut. Seluruh santri di perkenankan untuk beristirahat di
asaramanya masing-masing. Firman dan Roni yang tempat tidurnya berdampingan itu
pun akhirnya terlelap tidur. Ketika akan tidur ia tak lupa mengucap rasa syukur
atas apa yang telah Allah Swt berikan kepadanya hari ini. Ia akhirnya
menyimpulkan bahwa yang terjadi tadi merupakan bagian dari salah satunya, yaitu
bagian dari kebiasaan santri yang membuat ia terinspirasi untuk terus
meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya terhadap Ilahi Rabbi. Hingga akhirnya
menurutnya jadi santri itu tak selamanya membosankan dan jadi santri itu bukan
berati kita itu kampungan bukan pula kita akan dihadapkan dengan banyak ujian
namun lebih tepatnya kita kan menjadi orang dermawan dan akan selalu mempererat
tali persaudaraan juga tentunya happing fun.