Senin, 05 November 2018

Cerpen Santri - Ternyata Mondok Tak Semembosankan Itu - Nazy N Firman


Ternyata Mondok tak se“Mebosankan” itu
By
Nazy Nadzalul Firman

“Mondok?? Halahhh membosankan !!”
“Jadi santri?? Halahh kampungan !!”
“Pesantren?? Pasti tempat aneh yang dipenuhi banyak ujian !!”
Dan “Bla, Bla, Bla ....”
                        Ya, itulah yang pertama kali terpintas di benak seorang anak berumur belasan tahun yang sehari-harinya ia habiskan di rumah saja. Ia tidak pernah menyangka dirinya yang selalu mengidamkan kehidupan bebas tak terperinci malah justru harus mendekap di penjara suci. Nama anak itu Firman, seorang anak dari keluarga broken home. Cita-citanya simpel, hanya ingin menjadi anak yang shaleh dan dapat membanggakan kedua orangtuanya, khususnya ibunya.
                        Suatu hari, saat ia pertama kali mulai memasuki Pondok Pesantren ia dibuat tercengang oleh gemuruh shalawatan dengan diiringi tepukan marawisan. Sehingga timbul perkataan di dalam hati kecilnya “Jika ini salah satunya, mungkin aku akan sedikit betah tinggal disini”. Hingga akhirnya, ia pun mulai memasuki aula pendaftaran dan pengetesan. Saat ia sedang menunggu untuk dipanggil, ada seorang anak remaja yang menghampirinya. Anak remaja itupun menyapanya.
                        “Assalamu’alaikum, kamu anak baru juga ya?” ucap anak itu
                        “Iya.” jawab Firman
                        “Ohh.. sebelumnya,, kamu sudah pernah mondok di pasantren?”
                        “Belum, ini pertama kali nya saya mondok. Sebelumnya saya hanya mengikuti pengajian-pengajian di Madrasah Diniyah saja,”
                        “Ohh,, ya sudah. Salam kenal saya Roni dari Sukabumi.”
                        “Salam kenal kembali. Saya Firman dari tadi.” Ucap Firman sambil bercanda.
                        Roni pun menjadi teman ngobrolnya. Sesekali mereka berdua menceritakan tentang diri mereka masing-masing. Tak lama kemudian adzan Ashar pun berkumandang sehingga mengharuskan mereka untuk segera bersiap-siap melaksankan ibadah shalat Ashar.
                        “Sudah Ashar ternyata, mari kita bersiap-siap.” Pungkas Roni.
Ketika memasuki Masjid ternyata tak lama kemudian berkumandanglah iqamah, Firman di buat takjub dengan rapihnya jajaran shaf shalat yang berbaris secara teratur, karena selama ia shalat di Masjid di kampung halamannya jarang sekali menjumpai momen seperti yang ia lihat sekarang ini, bahkan mungkin menurutnya belum pernah sama sekali. Dan timbulah perkataan dalam hatinya “Apakah ini juga merupakan salahsatunya?”.
                        Seusai melaksanakan shalat, waktunya ia dan keluarganya berpamitan.
                        “Nak, ibu pamit dulu ya.. jaga diri baik-baik, jangan seperti di rumah lagi.. shalat setengah harinya saja. Ingat pesan ibu mu ini ya !” ungkap sang ibu kepada Firman
                        “Iya, bu... insyaallah Firman bakal laksanakan ucapan ibu.” Jawab Firman
                        “Dua bulan lagi  kok nak, ibu ke sini lagi untuk menjenguk. Kalau gitu ibu sekarang pamit pulang dulu ya nak, assalamu’alaikum.” Pungkas sang ibu
                        “Wa’alikumsalam, bu..” sambil mencium tangan ibunya itu
Dengan perasaan sedih, Firman akhirnya harus ditinggal ibunya di Pesantren. Saat itu pula Roni yang juga telah berpamitan dengan orangtuanya menghampiri Firman untuk mengajaknya mengobrol.
                        “Hayohh, lagi mikirin apa kamu Men?” ucap Roni dengan penuh semangat
                        “Ehh, Oni. Nggak kok Cuma agak sedih aja gitu merasa ditinggal sama orangtua.” Jawab Firman dengan mimik wajah yang sedih
                        “Hmmm, ya itulah Men, yang namanya hidup. Kadang kita itu harus berani “PEURIH sangkan meunang PEURAH”.” Ungkap Roni
                        “Maksudnya gimana Ni?” tanya Firman dengan wajah yang kebingungan
                        “Maksudnya, kita harus berani menjalani kehidupan dengan rasa kepedihan di hati kita agar kelak kita mendapat buah atau hasil yang terbaik dari itu semua.”
                        “Ohh.. begitu ya, kamu ada benarnya juga sih Ni”
                        “Iya dong, itulah mengapa nama belakangku Asshidqi karena aku mungkin ya selalu benar.. hehe.” Pungkas Roni yang sedikit ngebanyol
                        Langit semakin gelap yang menandakan waktu semakin senja sehingga membuat keduanya harus segera masuk ke dalam asrama untuk persiapan shalat Maghrib berjamaah. Sebelum itu mereka berdua bergegas untuk pergi ke WC untuk mandi terlebih dahulu. Sesampainya di sana ia menjumpai keadaan WC pesantren yang sudah dipenuhi antrean para santri yang juga akan melakukan pembersihan badan pula.
                        “Wah, Ni. Ternyata keadaan WC pesantren itu selalu penuh dengan antrian seperti ini ya?” tanya Firman kepada Roni
                        “Ya begitulah. Kalo aku sih sudah biasa dengan antrian seperti ini karena aku juga dulu pernah mondok meskipun Ngalong juga, hehe.”
                        “Hmm, kalo seperti ini ya bagus juga sih. Ini mengajarkan bahwa hidup itu harus sabar menanti.. betul gak coyy?”
                        “Haaa.. iya dong, eh tumben kamu sekarang dikit bijak Men” ungkap Roni mengejek Firman
Antrian demi antrian mereka lalui hingga akhirnya giliran mereka untuk mandi
                        “Ehhh, kamu mau mandi bareng gak Men?” ucap Roni
                        “Ya nggak mau lah, emang aku ini cowok apaan” jawab Firman dengan logat sengaja dimiripkan seperti perempuan
Mereka berdua pun mandi di ruangan  WC yang terpisah. Tak lama kemudian mereka selesai mandi dan segera bergegas untuk bersiap-siap melaksanakan shalat Maghrib berjamaah. Adzan maghrib pun berkumandang dan mereka bergegas menuju masjid. Suasana ketika akan shalat berjamaah pun terasa seperti shalat berjaamaah Ashar tadi. Firman dan Roni untuk pertama kalinya duduk di barisan shaf paling depan dan tak lama kemudian sang muadzin pun mengumandangkan iqamah. Shalat Maghrib pun berjalan dengan penuh kekhusuan.
                        Setelah melaksanakan shalat berjamaah serta wiridan, tak lama setelahnya kepengurusan dari organisasi pesantren mengumumkan kepada seluruh santri dan santriah bahwa ba’da shalat Isya nanti akan diadakan acara Khutbatul Iftitah, yaitu pekan masa ta’aruf santri baru. Sambil menunggu hal itu, semua santri tadarus Qur’an terlebih dahulu dan tak terasa sudah adzan Isya pun berkumandang dan juga tak lama iqamah pun segera berkumandang. Seluruh santri melaksanakan shalat Isya penuh dengan Kekhusuan. Setelah shalat Isya, Firman dan Roni kemudian berfikir untuk mengganti pakaian terlebih dahulu karena takutnya baju yang merka kenakan akan terkena noda makanan, karena mereka berfikir ketika acara dimulai pasti sudah disedikan bingkisan yang berisikan makanan dan minuman untuk menemani kehangatan suasana mereka nanti.
                        Beberapa menit kemudian acara akan segera dimulai dan seluruh santi dipersilahkan duduk di kursi yang sudah panitia persiapkan. Dan ternyata sangkaan mereka berdua itu pun benar, sudah tersedia bingkisan kotak berisikan makanan dan minuman
                        “Lihat kan Ni, pasti ini akan terjadi.” Ucap Firman kepada Roni dengan perut yang keroncongan karena tadi saking masih belum bisa ditinggal keluarga hingga lupa untuk makan.
                        “Ha.. benar, serasa kita telah merasakan De Javu saja” jawab Roni dengan perasaan yang senang pula.
Acara pekan Khutbatul Iftitah pun dimulai. Sang MC mula-mula membuka acara tersebut dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahiim dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-QUR’AN beserta shalawat. Hingga dimulailah pementasan yang sangat banyak ditunggu-tunggu oleh semua santri dan santriah yaitu pementasan seni oleh group Marawisan. Firman dibuat takjub dengan lantunan shalawat yang diiringi dengan tepukan kendang dan komponen alat musik marawis yang membuat tubuhnya tak henti untuk bergerak
                        “Wahh, seru juga ya yang namanya musik Marawis ini” ungkap Firman kepada Roni dengan perasaan penuh dengan sukacita
                        “Ya lah pastinya” jawab Roni
Hingga seorang MC mempersilahkan kepada santri yang ingin menyumbangkan sebuah lagu untuk dipertunjukan di panggung
                        “Wahhh.. kesempatan yang bagus nih buat nunjukin siapa ana.” Ungkap Roni kepada Firman dengan penuh kepercayaan diri
Dan benar saja, Roni segera naik keatas panggung dan menyanyikan sebuah lagu berjudul “Ayo Mondok” versi Despacito. Tak disangka ternyata Roni memiliki suara yang merdu sehingga mengguncang bumi khutbatul iftitah ketika itu. Setelah menampilkan sebuah lagu, ia pun segera duduk kembali.
                        “Wowww.. suaramu bagus juga ya Ni, mirip penyanyi disko gitu.” puji Firman pada Roni sambil bercanda
                        “Hahh.. apaan kok penyanyi disko, penyanyi dangdut lah!!” jawab Roni
Hingga sampailah dengan puncak acara, yaitu intro diri masing-masing santri baru di atas panggung secara ditunjuk acak oleh sang MC. Hal ini membuat mental Roni sedikit kendor karena ia kan merasa malu jikalau ia ditunjuk oleh sang MC. Dan pada akhirnya sang MC terlebih dahulu menunjuk Roni untuk intro. Roni tidak merasa malu karena ia sudah memiliki modal dengan bernyanyinya ia di atas panggung tadi. Mendengar hal itu membuat Firman semakin lega. Setelah itu ternyata yang dipanggil oleh MC untuk memperkenalkan diri selanjutnya ialah orang yang duduk di samping Roni karena Roni duduk di bagian paling pojok maka otomatis itu berarti Firman selanjutnya. Firman semakin gemetar
                        “Tenang.. santai aja kali. Toh mereka semua juga makan nasi nagapain harus takut karena malu coba?” mendengar ucapan Roni yang demikian itu membuat Firman agak sedikit terbangun mentalnya. Akhirnya ia maju ke atas panggung. Ketika di atas panggung ia merasakan atmosfer yang sangat ramai dan bergemuruh. Ia berinisiatif ketika memperkenalkan dirinya dengan yang lain dengan sdikit bahan candaan
                        “Assalamu’alaikum wr.wb.. perkenalkan saya Firman cowok berkumis tipis, berwajah hitam manis yang insyaallah bisa membuat wanita menjerit histeris”
Mendengar intronya itu, membuat seluruh santri yang ada di sana dibuatnya tertawa terbahak-bahak. Itu juga membuat hati Firman lega dan merasa menjadi sngat senang.
                        Intro demi intro ia dengarkan dan akhirnya selesai sudah perkenalan diri yang menandakan pula berakhir acara tersebut. Seluruh santri di perkenankan untuk beristirahat di asaramanya masing-masing. Firman dan Roni yang tempat tidurnya berdampingan itu pun akhirnya terlelap tidur. Ketika akan tidur ia tak lupa mengucap rasa syukur atas apa yang telah Allah Swt berikan kepadanya hari ini. Ia akhirnya menyimpulkan bahwa yang terjadi tadi merupakan bagian dari salah satunya, yaitu bagian dari kebiasaan santri yang membuat ia terinspirasi untuk terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya terhadap Ilahi Rabbi. Hingga akhirnya menurutnya jadi santri itu tak selamanya membosankan dan jadi santri itu bukan berati kita itu kampungan bukan pula kita akan dihadapkan dengan banyak ujian namun lebih tepatnya kita kan menjadi orang dermawan dan akan selalu mempererat tali persaudaraan juga tentunya happing fun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar